A. Model Modernisasi Pendidikan Pesantren
Modernisasi atau inovasi pendidikan pesantren dapat
diartikan sebagai upaya untuk memecahkan masalah pendidikan pesantren. Atau
dengan kata lain, inovasi pendidikan pesantren adalah suatu ide, barang, metode
yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau
sekelompok orang , baik berupa hasil penemuan (invention) maupun discovery,
yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah pendidikan
pesantren.
Miles mencontohkan inovasi (modernisasi) pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Bidang personalia
Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial, tentu
menentukan personel sebagai komponen sistem. Inovasi yang sesuai dengan
komponen personel misalnya adalah peningkatan mutu guru, sistem kenaikan
pangkat, dan sebagainya. 31 Dalam hal ini, pesantren telah di bantu dengan
adanya program Beasiswa S1 untuk guru diniyah oleh Departemen Agama.
2. Fasilitas fisik
Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini misalnya
perubahan tempat duduk, perubahan pengaturan dinding ruangan perlengkapan
Laboratorium bahasa, laboratorium Komputer, dan sebagainya
3. Pengaturan waktu
Suatu sistem pendidikan tentu memiliki perencanan penggunaan
waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya pengaturan waktu
belajar, perubahan jadwal pelajaran yang dapat memberi kesempatan
siswa/mahasiswa untuk memilih waktu sesuai dengan keperluannya, dan lain
sebagainya.
Menurut Nur Cholis
Majid, yang paling penting untuk direvisi adalah kurikulum pesantren
yang biasanya mengalami penyempitan orientasi kurikulum. Maksudnya, dalam
pesantren terlihat materinya hanya khusus yang disajikan dalam bahasa Arab.
Mata pelajarannya meliputi fiqh, aqa’id,
nahwu-sharf, dan lain-lain. Sedangkan tasawuf
dan semangat keagamaan yang merupakan inti dari kurikulum keagamaan cenderung
terabaikan.
Tasawuf hanya dipelajari sambil lalu saja, tidak secara
sungguh-sungguh. Padahal justru inilah yang lebih berfungsi dalam masyarakat
zaman modern. Disisi lain, pengetahuan umum nampaknya masih dilaksanakan secara
setengah-setengah, sehingga kemampuan santri biasanya sangat terbatas dan
kurang mendapat pengakuan dari masyarakat umum. Maka dari itu, Cak Nur
menawarkan kurikulum Pesantren Modern
Gontor sebagai model modernisasi pendidikan pesantren.
B. Plus Minus Modernisasi Pendidikan Pesantren
Dalam menanggapi gagasan ini, tampak kalangan pesantren
terbelah menjadi dua, yaitu pro dan
kontra. Adanya kontroversi ini mungkin lebih disebabkan pada perbedaan pendapat mereka tentang
bagaimana sikap pesantren dalam menghadapi era
globalisasi. Mereka yang pro mengatakan bahwa modernisasi
pesantren akan memberi angin segar bagi pesantren. Mereka menganggap bahwa
banyak sisi positif yang akan diperoleh dengan modernisasi pendidikan di
pesantren. Di antara sisi positif tersebut adalah sebagai berikut:
" 1. Sebagai bentuk adaptasi pesantren terhadap perkembangan era globalisasi. Hal ini mutlak harus dilakukan agar pesantren tetap eksis.
2. Sebagai upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam sistem pendidikan pesantren."
Sedangkan bagi kalangan pesantren yang tidak setuju dengan
gagasan modernisasi berpendapat bahwa gagasan tersebut banyak sisi negatifnya,
diantaranya adalah: Modernitas akan
merubah cara pandang lama terhadap dunia dan manusia.
![]() |
| Era Globalisasi |
Terlepas dari itu semua, perbedaan pendapat yang terjadi
telah mendatangkan sisi positif tersendiri bagi pesantren. Hal itu telah
membuktikan hadits Nabi Muhammad Saw ”ikhtilafu ummati rahmatun” yang artinya
”perbedaan pendapat dalam umatku adalah rahmat”. Diantara manfaat dari
perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah: Melahirkan banyak pesantren yang bervariasi. Banyak pesantren yang
memiliki ciri khas masing-masing. Ini memberikan banyak pilihan kepada
calon santri dalam menentukan pesantren yang sesuai dengan bakat, minat serta
cita-citanya.
Lahirnya santri yang beraneka ragam. Hal ini mengubur
paradigma bahwa santri hanya mampu di bidang agama saja. Saat ini, banyak
sekali santri yang ahli di bidang pengetahuan umum





